Sabtu, 19 Mei 2012

seminarrr buuu


Judul makalah : Toward  Development Of A Professional Continuing Education
                           (Menuju Pengembangan Profesional Pendidikan Berkelanjutan)
Penyusun         : Prof. Ace Suryadi, M.Sc., Ph.D.
Jabatan                        : Guru Besar Ekonomi Pendidikan PLS FIP UPI

Menuju Pengembangan Profesional Pendidikan Berkelanjutan

Masalah dalam kenyataan yang terjadi di lapangan diantaranya muncul pengangguran terdidik yang nantinya mengakibatkan ketidakseimbangan sosial: kemiskinan, lingkungan yang tidak sehat, Kejahatan, konflik poltical & tentram Masyarakat. Selain  berdampak pada apresiasi rendah untuk pendidikan. Ini disebabkan diantaranya karena Pendidikan Formal Bias dalam Pekerjaan dan Promosi.
Pengembangan professional harus ditunjang dengan pengetahuan yang dimiliki oleh individu tersebut. Pengetahuan merupakan faktor penting dalam pembangunan ekonomi dan sosial
  1. Merangsang pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas sebagai hasil dari inovasi
  2. Berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan
  3. Memfasilitasi pencapaian sebagian besar Millennium Development Goals
  4. Meningkatkan kapasitas negara untuk mengatasi keadaan darurat alam
  5. Pengetahuan menentukan tingkat keterampilan yang lebih tinggi
  6. Fleksibilitas untuk beradaptasi terhadap perubahan
  7. Kemampuan untuk belajar terus-menerusSimak

Hidup-perputaran Pendekatan Pendidikan pengembangan dimana ada perluasan program pra-sekolah untuk fondasi, Universal penyelesaian pendidikan dasar, Expand sekunder, memikirkan kembali kejuruan / membagi pendidikan umum dan mengartikulasikan lebih baik dengan tersier, kemudian membuat pendidikan tinggi lebih beragam dan terakhir Memperluas akses terjangkau untuk kesempatan belajar bagi orang dewasa (di rumah, di sekolah dan pada pekerjaan) dan membuat ini bertanggung jawab untuk studi lebih lanjut dan pembawa.

Satu-satunya orang yang berpendidikan adalah orang yang telah belajar bagaimana untuk belajar …. Dan perubahan lembur. (Carl Rogers)



Judul makalah : Studi tentang Implementasi Program Belajar Sepanjang Hayat di Indonesia
Penyusun         : Prof. Dr. A. Hufad, M.Pd.
  Sardien Supariatna, M.Si.
  Joni Rahmat Pramudia., M.Si

Studi tentang Implementasi Program Belajar Sepanjang Hayat di Indonesia

Studi ini diambil sebagai bahan penelitian berdasarkan beberapa alasan yang terjadi di lapangan. Alasan tersebut diantaranya karena banyaknya pengangguran, bertambahnya penduduk miskin. Selain itu, melemahnya standar kehidupan dalam populasi penduduk yang makin bertambah. Kemudian menimbulkan makin tajamnya jurang antara yang kaya dan yang miskin. Oleh karena kondisi tersebut sehingga menjadi inspirasi kunci (key inspiration) bagi berkembangnya belajar sepanjang hayat melalui pengembangan potensi manusia (the development of human potential). Dimana Program belajar sepanjang hayat memberikan kesempatan belajar secara wajar dan luas.
Tujuan dilaksanakan studi tentang program Belajar sepanjang Hayat (BSH) ini yaitu Meriview dan menganalisis konseptualisasi belajar sepanjang hayat dalam kebijakan pendidikan dan penjabarannya ke dalam perencanaan, strategi, dan program yang menuju aksi. Selanjutnya, mengumpulkan kasus-kasus yang menggambarkan ”good practice” implementasi program belajar sepanjang hayat di lapangan. Dan terakhir mendeskripsikan dampak program belajar sepanjang hayat terhadap pemberdayaan individu dan masyarakat dilihat dari konteks sosial dan ekonomi.
Konsep belajar sepanjang hayat pertama kali dikemukakan oleh Edgar Faure dari The International Council of Educational Development (ICED). Edgar Faure menegaskan bahwa istilah belajar terinspirasi oleh Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “uthlubul ‘ilma minal  mahdi ilal lahdi”, yang bermakna “tuntutlah ilmu dari sejak dalam kandungan (buaian) hingga liang lahat”. Aktivitas belajar sepanjang hayat berorientasi pada upaya pengembangan potensi manusia melalui proses yang medukung secara terus menerus, yang menstimulasi dan memberdayakan individu-individu agar memperoleh semua pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan dan pemahaman.
Belajar sepanjang hayat merupakan proses kontinum dari elemen-elemen yang saling berkaitan (interdependent), yang dilandasi oleh kebutuhan individu dalam pendidikan sepanjang hidupnya. Proses belajar sepanjang hayat yang merentang dari pendidikan formal, non formal hingga informal.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa Obervasi yang dilakukan ke sejumlah produk kebijakan pendidikan pada level provinsi, kabupten/kota. Selanjutnya adalah wawancara ke Satuan Pendidikan Nonformal penyelenggara program belajar sepanjang hayat (Program Pendidikan Kesetaraan, Pendidikan Keaksaraan, Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan, Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Kecakapan Hidup), dengan responden mulai dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi sampai tokoh masyarakat, ada juga Tutor Keaksaraan Fungsional dan juga lulusan program pendidikan Keaksaraan Fungsional.
Belajar belajar sepanjang hayat harus menjadi landasan, prinsip dan asas penting dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pada tingkat satuan dan program BSH,  hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan kurikulum/program pembelajaran yang komprehensif dan berbasis pada kebutuhan dan perkembangan peserta didik. Bagi praktisi/pengelola satuan dan program  BSH, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam penyelenggaraan program-program pendidikan  sepanjang hayat di sekolah, masyarakat dan keluarga pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Program Belajar Sepanjang Hayat ini harus didukung oleh Peran serta dan  Kemitraan Pemerintah, Lembaga Non Pemerintah dan Masyarakat.
Bagi forum-forum pendidikan dan belajar sepanjang hayat, orangtua, dan masyarakat, hasil penelitian ini ini  diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dalam mengapresiasi performance satuan dan program belajar sepanjang hayat yang berada di wilayah tempat tinggalnya sehingga dapat berperan serta dalam meningkatkan mutu pendidikan secara umum, khususnya mutu pendidikan sepanjang hayat. Bagi masyarakat pada umumnya, baik secara individual maupun komunal, program belajar sepanjang dapat dijadikan sebagai pilihan belajar yang menarik, karena  lebih berorientasi kepada peningkatan pengetahuan, sikap, dan kecakapan hidup yang berdimensi sosial dan ekonomi/peningkatan pendapat.
Satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan formal, non formal, dan informal merupakan organisasi kunci dalam pengembangan budaya belajar sepanjang hayat. Program belajar sepanjang hayat harus mengedepankan pengembangan potensi manusia (development of human potential) sebagai inspirasi pokok dalam penyelenggaraannya. Program belajar sepanjang hayat pada semua jalur pendidikan harus mempertimbangkan pengembangan sistem akreditasi (accreditation), penggunaan teknologi (technology issues), terintegrasi dalam penyelenggaraannya (integration), memperhatikan mutu (quality), dan didukung oleh pembiayaan yang memadai (finance).
Diusahakan terbit suatu regulasi dan atau aturan perundang-udangan yang nantinya efektif sebagai pedoman bagi para penyelenggara, praktisi dan penggiat program belajar sepanjang hayat Lembaga atau satuan pendidikan sepanjang hayat, terutama pada jalur pendidikan non formal harus dibina, diawasi, dihidupi dan dibiayai tidak hanya dalam dimensi program, namun juga dari segi fasilitas, tempat, sarana dan prasarana.
Judul makalah : Nonformal  Education and Poverty Eradication in Uganda.
              (Pendidikan nonformal dan Pemberantasan Kemiskinan di Uganda)
Penyusun         : Kiira Jamal

Pendidikan nonformal dan Pemberantasan Kemiskinan di Uganda.

Buta huruf dan pendidikan dasar yang tidak memadai mencabut orang dari kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan lain kegiatan pembangunan. Pendidikan Nonformal di Uganda mulai muncul karena datangnya pedagang Arab, penjelajah Eropa, Misionaris dan pejabat kolonial di akhir c 19.
Pendidikan nonformal (PNF) dipandang sebagai proses kegiatan belajar atau program, untuk memenuhi kebutuhan berbagai individu: orang dewasa, dan keluar dari pemuda sekolah.
Pendidikan adalah komponen kunci dari kualitas sumber daya manusia
.
Pendidikan nonformal adalah gerakan didedikasikan untuk diantaranya : menyediakan keahlian profesional dalam mengajar; Membantu orang dewasa dan anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan formal untuk belajar; Memberikan keterampilan permanen untuk membantu mengentaskan kemiskinan; Peningkatan tingkat melek huruf orang dewasa.
Dari uraian diatas pendidikan nonformal diambil untuk perubahan sosial dengan memberdayakan masyarakat dalam perjuangan untuk mengurangi kemiskinan.
Tujuan dari pendidikan nonformal di Uganda diantaranya: pencapaian keaksaraan permanen dan fungsional dan berhitung; penguasaan keterampilan fungsional yang relevan dengan kehidupan di masyarakat; pengembangan kesadaran nasional individu dengan membangun kompetensi sosial, politik dan sipil, termasuk petunjuk tentang isu-isu nasional dan internasional; promosi belajar seumur hidup di masyarakat dalam rangka untuk memperbarui kompetensi profesional yang diperlukan oleh dunia kerja.
Ini semua sejalan dengan Visi 2025 Uganda yang berisi tujuan jangka panjang pembangunan di Uganda, "Sebuah pencerahan, informasi yang cukup dan makmur masyarakat"
dengan tujuan utama yaitu "peningkatan akses masyarakat terhadap informasi dan partisipasi dalam diri, masyarakat dan pembangunan nasional".
Kemiskinan adalah salah satu hambatan untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di Uganda. Penyebab bervariasi, mulai dari politik dan faktor ideologis, geografis lokasi sosial, Ekonomi, Lingkungan, Kelompok rentan dan minoritas, dan Perkotaan atau kelompok pedesaan.
Tujuan dari pengurangan kemiskinan di Uganda melalui investasi dalam pendidikan menimbulkan masalah pembiayaan dan keterjangkauan pendidikan untuk semua. Itulah sebabnya non pendidikan formal diberikan prioritas dalam upaya Uganda untuk memerangi kemiskinan. Kemiskinan bisa dan setidaknya harus dikurangi jika tidak akhirnya disingkirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar